Obrog, Tradisi Membangunkan Sahur dan Ngabuburit aLa Masyarakat Pantura Jawa Barat

 

IMG_1296
Obrog di desa saya (sc: ig/@desa.mulyajaya)

Alunan melodi gitar dan keyboard berpadu dengan suara tabuhan drum dan kendang yang bertalu-talu serta siulan suling yang mendayu-dayu memecah keheningan pagi buta di suatu desa di kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada bulan Ramadhan. Di kala orang lain masih tertidur pulas, ada sekelompok orang yang berkeliling desa sambil memetik gitar, menekan tangga nada keyboard, meniup suling, menabuh drum dan kendang, serta menyanyikan lagu-lagu tarling yang diselingi lagu-lagu sunda, religi, dan dangdut koplo pantura. Para pemain musik Menyusuri jalan dan gang serta melewati rumah-rumah penduduk.

Obrog di desa saya (sc: ig/@desa.mulyajaya)
Obrog di desa saya (sc: ig/@desa.mulyajaya)

Warga yang tertidur pun langsung terbangun dan segera menyiapkan makan sahur ketika mendengarnya, ada pula yang menyempatkan keluar rumah untuk menyaksikan para pemain musik tersebut ketika mereka melewati rumahnya. Ada yang hanya menonton di depan rumah ada pula beberapa anak muda yang bergegas mengikuti mereka.

Sore harinya, para pemusik tersebut kembali berkeliling desa. Kali ini lebih meriah, karena mereka membawa burok dan sisingaan lengkap dengan penarinya. Terkadang mereka berhenti ketika ada keramaian.

Anak-anak kecil langsung berebut untuk naik sisingaan dan burok. Iring-iringan akan kembali berjalan jika para anak kecil sudah naik di atas burok dan sisingan. Sambil bernyanyi, para penari sisingaan dan burok juga menari mengikuti irama lagu. Para orangtua mengikuti di samping sisingaan untuk mengawasi anaknya. Sedangkan anak-anak yang tidak kebagian naik akan mengikuti di belakang iring-iringan bersama orangtuanya. Terkadang warga yang menonton di pinggir jalan melemparkan sejumlah uang saweran kepada iring-iringan.

Itulah Obrog, sebuah kegiatan atau tradisi yang dilakukan masyarakat di pesisir utara Jawa Barat pada bulan Ramadhan untuk membangunkan sahur dan ngabuburit sembari menunggu berbuka puasa. Jika di daerah betawi terutama Jakarta memiliki tradisi Ngarak Bedug, lalu di Jawa Tengah dan Yogyakarta memiliki tradisi Klotekan, serta di Jawa Timur dan Madura memiliki tradisi Patrol Musik, maka Jawa Barat bagian utara punya tradisi Obrog.

Kegiatan ini lazim ditemui di daerah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Obrog biasanya beroperasi sekitar pukul setengah 3 hingga pukul 4 pagi untuk membangunkan sahur dan pukul 4 sore hingga menjelang maghrib untuk ngabuburit.

Obrog sendiri berawal dari sekelompok pemuda di desa-desa di utara Jawa Barat pada tahun 70an. Mereka berkeliling desa untuk membangunkan sahur. Awalnya mereka hanya menggunakan kentongan bambu dan gentong bekas yang dipukul sebagai alat musik. Disebut “Obrog” karena suara yang dihasilkan barang-barang tersebut seperti berbunyi “Brog…brog…”, dari situlah masayarakat menyebutnya obrog.

Tidak hanya meneriakkan kata “sahur”, tetapi mereka juga menyanyikan lagu-lagu tarling, sunda, dan religi. Memasuki tahun 2000an, barulah Obrog mengalami improvisasi. Alat musik yang tadinya hanya kentongan bambu dan gentong bekas diganti dengan alat musik modern dan elektrik seperti drum, gitar listrik, keyboard, dan juga seperangkat elektronik seperti sound system besar, sound mixer, lampu LED, dan mikrofon. Tak lupa alat musik tradisional seperti kendang dan suling juga ditambahkan, dan untuk suplai listrik menggunakan genset bertenaga diesel.

Alat-alat musik dan elektronik tadi disusun di atas papan beroda yang panjang dan lebar. Untuk mengerakkannya masih menggunakan tenaga manusia, yaitu dengan didorong, namun di beberapa desa sudah ada yang ditarik oleh traktor untuk menggerakkannya.

Lagu-lagu yang dinyanyikan pun sekarang tidak hanya tarling, pop sunda, dan religi saja. Sekarang mereka juga menyanyikan lagu-lagu dangdut koplo pantura.

Awalnya, anggota pemain Obrog seluruhnya adalah laki-laki baik yang menyanyi dan memainkan musik. Namun, semakin ke sini perempuan juga boleh ikut serta menjadi penyanyi, asal berpakaian yang sopan dan tidak seronok, ya minimal mengenakan baju berlengan dan celana panjang.

Pada sore hari di hari terakhir bulan Ramadhan, Obrog akan lebih meriah lagi. Selain karena membawa sisingaan dan burok, mereka juga berkeliling desa lebih lama, karena mereka akan berhenti di titik-titik tertentu seperti balai desa, rumah kepala desa, dan juga rumah-rumah orang yang dianggap “besar” di desa seperti rumah bos galon, bos cincau, pemilik penggilingan padi, dan rumah tetua kampung seperti kakek saya. Tak heran ketika ada Obrog lewat, rumah kakek saya menjadi sangat ramai karena iring-iringan masuk ke halaman. Saya pun menjadi tidak pernah absen untuk menaiki burok dan sisingaannya, bahkan saya juga pernah satu kali mencoba bernyanyi.

Rumah kakek saya selalu menjadi tempat istirahat iring-iringan, karena Obrog selalu melewati rumah kakek saya ketika maghrib. Apalagi om saya merupakan pemuda desa yang aktif, makanya om saya selalu menyediakan makanan untuk berbuka kepada pemain Obrog.

Obrog akan berlanjut ketika semua pemainnya selesai berbuka. Mereka tidak langsung pergi, melainkan bernyayi 1 sampai 3 lagu di rumah kakek saya. Karena malam terakhir Ramadhan, maka di setiap jeda lagu dengan lagu lainnya dikumandangkan takbir sebanyak 3 kali. Setelah itu mereka akan kembali berkeliling desa, biasanya hingga pukul 10 malam karena malam terakhir Ramadhan.

Pada hari raya Idul Fitri atau keesokan harinya, para pemain Obrog akan berkeliling ke rumah-rumah warga untuk bersilaturahmi sekaligus meminta uang seikhlasnya kepada warga sebagai uang lelah. Mereka tidak mematok berapa uang yang harus diberikan dan tidak memaksa warga untuk memberikannya, dikasih cepek alias 100 perak pun mereka tetap menerima dengan senang hati. Warga pun tidak pernah ada yang keberatan untuk memberikan uangnya.

Obrog juga sering digunakan untuk acara khitanan. Keluarga ayah saya pernah menanggap Obrog untuk khitanan adik saya dan anak dari om saya. Waktu itu pada tahun 2016 selepas lebaran.

Sayangnya, masih banyak yang menganggap Obrog adalah kegiatan yang kampungan. Sebenarnya wajar dan sah-sah saja jika dibilang kampungan karena kegiatan ini berlaku di desa atau kampung. Tapi sebagaimana yang kita ketahui bahwa kata “kampungan” adalah kata untuk merendahkan sesuatu. Saya pernah dibilang kampungan oleh nenek dari ibu saya ketika beliau mengetahui saya menyanyi bersama Obrog.

Tapi tak jarang pula yang mengapresiasi Obrog. Contohnya guru gitar saya, beliau mengatakan bahwa Obrog adalah salah satu budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Bahkan beliau mengapresiasi saya ketika mengetahui saya menyanyi bersama Obrog, katanya jarang sekali anak muda dari kota yang mau mengajukan diri untuk menyanyi bersama Obrog di kampung.

Berikut ini akan saya tampilkan beberapa video Obrog

Obrog, Tradisi Membangunkan Sahur dan Ngabuburit aLa Masyarakat Pantura Jawa Barat

Jadwal Terbaru Bus Putera Mulya Double Decker (Bus TransJawa) Angkatanpagi

Assalamualaikum wr. Wb.

Sejak jalan tol trans Jawa diresmikan oleh Bapak Presiden Jokowi, jarak Jakarta—Solo semakin singkat. Banyak perusahaan otobus yang diuntungkan oleh hal ini. Salah satunya adalah Perusahaan Otobus (PO) Putera Mulya asal Wonogiri yang mencetuskan keberangkatan bus di pagi hari untuk jurusan Solo. Saya rasa jadwal baru ini akan ramai peminat, apalagi busnya memakai tipe double decker (bus tingkat) dan full melalui tol trans Jawa dari Jakarta hingga Solo. Berikut ini adalah jadwal bus Putera Mulya keberangkatan pagi dari Jakarta menuju Solo dan sebaliknya.

Jadwal baru Putera Mulya Sejahtera, Bus Trans Jawa keberangkatan pagi.

Jakarta :
Pondok Pinang : 05.30 WIB
Pulogebang : 06.30 WIB
Bekasi Timur : 07.15 WIB
Cikarang : 07.45 WIB
Langsung Semarang dan Solo.

Solo :
Tirtonadi : 07.00 WIB
Kartosuro : 07.20 WIB
Semarang : 08.20 WIB
Langsung Bekasi dan Jakarta

Dapatkan tiket bus First Executive Class (dek atas) tujuan Jakarta – Semarang – Solo hanya Rp. 50 ribu saja (harga normal Rp. 195 ribu).

 

 

HANYA UNTUK KEBERANGKATAN PAGI.

Kami menyediakan shuttle untuk pelanggan tujuan dan dari Wonogiri.

Yuuk rasakan sensasinya perjalanan ke Semarang dan Solo menggunakan Bus Scania Double Decker (bus tingkat) PO Putra Mulya melalui Tol Trans Jawa dengan waktu tempuh 8 jam saja.

Kapan lagi bisa merasakan perjalanan jauh dengan aman, nyaman dan murah.

Dapatkan tiket bus-nya HANYA di http://www.redbus.id mulai tanggal 12 Februari 2019 untuk periode keberangkatan tanggal 14-18 Februari 2019.

PROMO HANYA BERLAKU UNTUK PEMBELIAN MAKSIMAL DUA TIKET UNTUK SATU PEMESAN.

Jadwal Terbaru Bus Putera Mulya Double Decker (Bus TransJawa) Angkatanpagi

Pantura Kini Sepi Sekali

Caper atau catatan perjalanan Bogor-Solo dengan bus Pahala Kencana.

Pada tanggal 7 Desember 2018 kemarin saya jalan-jalan ke solo dengan bus Pahala Kencana…horeee naik bus lagi.

Tiket pun sudah saya pesan 3 hari sebelum keberangkatan sehingga mendapat kursi paling depan. Kursi yang diincar para bus mania.

Langsung saja ya saya ceritakan dari hari keberangkatannya, karena kalau diceritakan dari saat beli tiket malah kepanjangan, karena tidak ada hal yang unik seperti saat beli tiket Rosalia Indah dulu.

Sekitar pukul 11 kurang kami berangkat dari rumah kami di Ciomas naik G*Car, kok kami? Hehehe…karena saya melakukan perjalanan ini bersama ibu dan adik saya.

Sampai juga saya di pool Pahala Kencana Sindangbarang, langsung saja menuju tempat check-in. Karena masih ada waktu satu jam, kami pun memutuskan makan di McD dekat pool.

Pahken
Di depan bus Pahala Kencana di pool Sindangbarang, Bogor.

Saat kami sedang pesan makanan di McD, tiba-tiba kami ditelpon agen kalau bus yang akan kami naiki (bus Ponorogo) rusak dan baru bisa berangkat jam 3 sore. Kabar tersebut seketika membuat saya lemas. Buru-buru kami take away menu yang dipesan, kami putuskan untuk makan di bus saja

Sesampainya di pool, kami menuju loket untuk konfirmasi pindah bus, saya pun dioper ke bus jurusan Wonogiri yang sudah siap di jalur keberangkatan. Daan hal terburuk pun terjadi, kursi saya yg awalnya bernomor 1C (baris paling depan) berubah menjadi 6C (baris keenam)…aaagghhhh, mau bagaimana lagi, terima sajalah kenyataan ini. Konon hal ini sudah biasa terjadi di bus Pahala Kencana, bahkan hal ini terjadi di semua jurusan.

Akhirnya saya naik ke dalam bus Pahala Kencana seri W3—setelah saya memasukkan koper ke dalam bagasi—dengan julukan “Kalem” yang lajunya sangat kontras dengan julukannya, wkwkwk. W3 itu merujuk pada jurusannya, Wonogiri. Kesan pertama ketika saya memasuki kabinnya adalah bus ini masih sangat nyaman walaupun dari luar terlihat usang. Bus ini dilengkapi dengan kursi berbahan beludru merk Aldilla yang berjumlah 34 seat non legrest, dengan fasilitas pendukung berupa footrest, handrest, bantal, selimut, TV, toilet, dan sekat pembatas kabin pengemudi dan kabin penumpang.

Ada fasilitas hiburan audio-visual juga berupa lagu dan video klip jadul dari Deddy Dores, Nike Ardilla, Anie Carrera, Ebiet G. Ade, Tantowi Yahya, Tommy J. Pisa, dan Koes Plus yang diputar sepanjang perjalanan.

 

Tiket Pahala Kencana
Tiket bus Pahala Kencana Bogor-Solo.

Oh ya, bus ini menggunakan sasis Hino RK8 dan berbody Jetbus HD dari karoseri Adiputro yang sudah dimodifikasi lampu depannya menggunakan face Jetbus HD2+. Padahal bus jatah Ponorogo yang seharusnya saya naiki malah bersasis Mercedes-Benz OH1626 AirSuspension, yang tentunya lebih nyaman dibanding Hino RK8.

Kabin Pahken
Kabin Pahala Kencana W3 jurusan Bogor-Wonogiri.

Jam 11.30 bus diberangkatkan dari pool Sindangbarang dengan membawa penumpang hanya kami bertiga, hehehe. Tapi jangan dikira penumpangnya hanya kami bertiga yaa, masih banyak penumpang lain yang harus dijemput di beberapa agen.

Setelah keluar pool dan putar balik, bus pun dihadapkan dengan kemacetan di Jalan KH. Abdullah bin Nuh. Saya dipersilakan oleh kenek untuk pindah saja ke kursi di samping pengemudi jika mau foto-foto, horrreee. Keneknya baik, ya…

Keluar Pool
Jalan Raya Bubulak dari dalam bus Pahala Kencana.

Bus ini harus menjemput penumpang di beberapa agen seperti Sukasari, Ciawi, Cibinong, Citeureup, Kampung Rambutan, Pool Jatiasih, dan Subang. Gak usah diceritain yaa, ngebosenin banget ntar isinya malah cuma mutar-mutar kota Bogor dan Jakarta lagi…hehehe. Yang jelas rutu bus ini adalah Pool Sindangbarang—Tol Sentul—Tol Jagorawi—Jalan Pajajaran—Agen Sukasari—Jalan Raya Tajur—Agen Ciawi—Tol Ciawi—Tol Jagorawi (lagi)—Exit Sentul Sirkuit—Agen Cibinong—Agen Flyover—Agen Jalur Bawah Citeureup—Tol Jagorawi (lagi)—Terminal Kampung Rambutan—Tol JORR—Pool Jatiasih—Tol Jakarta-Cikampek (yang macetnya naudzubillah)—Tol Cipali—Exit Subang—Agen Subang—Tol Cipali, setelah itu langsung joss menuju rumah makan di Cirebon. Tuh kan ruwet banget, makanya langsung saya skip saja deeh. Walhasil baru masuk jalan tol Jakarta-Cikampek jam 5-an. Buset…

Tol cipali
Suasana jalan tol Cipali.

 

Skip skip

Langsung ke tol Cipali aja deh yaa soalnya kalo saya ceritain, isinya cuma mutar-mutar kota, macet, dan nungguin penumpang.

Hari semakin sore, bus pun memasuki tol Cipali. Di sepanjang Cipali bus mengebut tapi tetap halus. Pengemudi—yang akhirnya saya ketahui bernama Pak Dedi—juga sempat menelpon tukang sate langganan di agen Subang, Pak Dedi pesan sate ayam 10 tusuk, hehehe.

Bus pun keluar di Exit Subang untuk menuju agen Subang, sebelum sampai di agen, saya diminta Pak Dedi untuk membangunkan kenek yang tidur di “kandang macan”, sebutan untuk tempat ditidur sopir di dekat toilet belakang.

Akhirnya bus sampai di agen Subang pada saat waktu maghrib. Setelah penumpang terakhir naik dan mbah kenek yang saya bangunkan mengambil pesanan sate, bus diberangkatkan kembali. Seorang penumpang bapak-bapak maju ke depan dan duduk di samping saya untuk merokok. Wah, harusnya enggak boleh merokok dalam bus. Tapi di bus memang sekat sopir ini suka dipakai merokok.

Masuk kembali ke tol Cipali. Sepanjang tol Cipali, bus menyalip banyak sekali bus-bus lain seperti Luragung group, Setia Negara, Harapan Jaya, Rosalia Indah, dll.
Kami bertiga—saya, Pak Dedi, dan bapak-bapak penumpang—mulai mengobrol. Saya sih jadi pendengar yang baik saja deh, hehehe. Soalnya mereka ngobrol dengan bahasa Jawa.

Pak Dedi bercerita kalau kondisi perusahaan Pahala Group sekarang tengah berada di ambang kehancuran sejak Pak Hendro—pendiri Pahala Kencana—meninggal. Sekarang perusahaan di pegang anaknya yang tinggal di Jerman. Pak Dedi juga mengeluhkan kalau sekarang bus terlalu banyak mengambil penumpang di agen atas perintah perusahaan, tentu saja hal ini membuat pengemudi lelah dan penumpang jenuh. Kalau penumpang sudah jenuh mereka bisa minggat ke bus lain. Kurang tahu, deh, apakah cerita Pak Dedi benar seperti itu…

Akhirnya ujung tol Cipali pun terlihat, yaitu Gerbang Tol Palimanan. Bus pun melaju hingga exit tol Kanci dan menuju Rumah Makan Aroma, Cirebon.

Palimanan
Di depan gerbang jalan tol Palimanan, Cirebon.

 

Karina
Eh, saat antre bayar tol ada Karina double decker jurusan Jakarta-Madura…

Akhirnya kami sampai di RM Aroma. Tadi saat di Palimanan, ibu saya ngewhatsapp untuk menanyakan rumah makannya masih di mana dan masih jauh atau tidak, hehehe.

Kami pun segera turun untuk menuju restoran. Setelah petugas rumah makan men-scan barcode di tiket, kami mengambil menu prasmanan berupa nasi panas (panas beneran bro, masih ngebul), ayam kecap pedas, mie goreng, kuah gulai, sambal ijo, daun singkong rebus, dan minumnya air mineral gelas. Rasa makanannya lumayan enak bagi saya. Sayang minumnya cuman air mineral gelas, coba minumnya teh, pasti lebih jozzz.

MenuAroma
Menu makanan RM Aroma

Baru selesai makan, eeh tiba-tiba ada pengumuman kalau bus akan berangkat. Kami buru-buru naik ke dalam bus. Kami putuskan untuk solat maghrib dan isya di bus saja.

Setelah bus jalan dan saya solat, saya pindah ke depan lagi, untuk menemani Pak Dedi goyang pantura, hehehe. Pantura sepi sekali sekarang, karena sekarang sudah ada tol trans Jawa. Sepanjang Cirebon hingga Tegal kami cuma lari bareng truk saja dan menyalip satu bus Purwo Widodo.

Memasuki kota Tegal, kemudi diambil alih oleh temannya Pak Dedi yang naik di Kampung Rambutan. Ketika berhenti di traffic light Pacific Mall Tegal, Pak Dedi turun karena hendak pulang ke rumahnya di Tegal. Bus pun dikemudikan temannya Pak Dedi hingga agen Tegal.

Sesampainya di agen Tegal, teman Pak Dedi balik ke belakang karena pengemudi sebenarnya naik dari sini. Setelah pengemudi sebenarnya naik, bus pun berjalan kembali. Oh ya, pengemudi kedua ini namanya Pak Parmudi. Style mengemudinya lebih jozz dari Pak Dedi, hehehe. Dia suka ngebut dan selap-selip.

Hmm…bingung nih mau cerita apa lagi, Pantura udah sepi siih, jarang ketemu bus pula. Sejak ada jalan tol jalur ini jadi kosong dan rumah-rumah makan juga sepi pembeli. Apalagi nanti jika Merak-Surabaya sudah tersambung setelah Lebaran tahun ini, ya? Ya, sudah kita skip ke Pemalang saja yaa.

Ketika melintasi pertigaan exit Tol Pemalang mulai bertemu bus-bus lain seperti Haryanto, Raya, Rosalia Indah, Nusantara, dll. Mereka semua baru keluar dari Tol Pemalang. Kami beriringan berjalan hingga Gringsing.

Melintas pertigaan Alas Roban, rupanya Pak Parmudi mengarahkan bus ke kanan, tepatnya ke Jalan Lingkar Alas Roban. Loh, bukannya lurus karena harus mampir ke RM Sendang Wungu yang letaknya di jalur lama Alas Roban? Saya bertanya ke Mbah kenek, katanya jalur lama jalannya rusak makanya lewat lingkar. Saat di pertegahan Jalan Lingkar Alas Roban, bus dibelokkan ke kiri masuk ke dalam hutan. Loh, mau ke mana ini? Rupanya ini adalah jalan belakang masuk RM Sendang Wungu. Waah, baru tau saya klo ada jalur ini, hehehe. Di sini sudah ada beberapa Pahala Kencana team Madura dan Malang yang mengarah ke Jakarta sedang beristirahat, ada juga Safari Dharma Raya, Mulyo Indah, dan Gajah Mungkur yang mengarah ke Jogja, Solo, Wonogiri sedang beristirahat juga. Saya pun pindah ke kursi saya yang sebenarnya untuk tidur karena sudah ngantuk. Sudah jam 12 malam ini.

Bangun-bangun bus sedang berjalan di jalan yang banyak sekali bus Eka, Mira, Sugeng Rahayu sedang berjalan ke arah sebaliknya, di manakah ini? Di depan terlihat sebuah SPBU bertuliskan “SPBU PABELAN”. Eh, sudah sampai Solo rupanya. Bergegas saya membangunkan ibu dan adik saya dan mengambil tas. Saya pun berjalan ke depan dan membuka pintu sekat untuk turun. Tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Pak Parmudi. Saya pun mengambil koper di bagasi yang sudah dibukakan Mbah kenek dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya.

pom bensin1

pom bensin 2
Bus Pahala Kencana melapor ke agen dan menurunkan penumpang di SPBU Pabelan, Solo.

Iseng-iseng lihat jam, rupanya masih jam 3 pagi. Wuih, cepat juga yaa, Gringsing-Solo cuma 3 jam. Kami pun langsung mengorder GoCar untuk sampai ke hotel.

Perjalanan pulang ke Bogor akan diulas dalam tulisan berikutnya…

Pantura Kini Sepi Sekali

CAPER ROSALIA INDAH BEKASI – JOGJA

Setelah blog mangkrak akhirnya bisa nulis lagi… Ini caper alias catatan perjalanan naik bus Rosalia Indah dari Bekasi ke Jogja.

Berawal dari kabar adik nenek saya akan ke Jogja naik bus. Kabar ini membuat saya senang karena sudah lama sekali saya tak naik bus jarak jauh, terakhir naik Damri Bogor – Bandarlampung akhir tahun 2017. Setelah itu paling banter saya naek bus Bogor – Cirebon…huft.

*****

Setelah mendapat kepastian hari keberangkatan, saya pun mencari tiket tanggal 1 Juli 2018. Pilihan saya jatuh ke Rosalia Indah.

HARI 1.

15:05 : Dengan diantar ayah saya, kami berangkat dari rumah ke pool RosIn di Tajur.

15:28 : Sampai di Pulo Empang dihadang macet…huft. Kemacetan berlangsung hingga Sukasari.

16:13 : Sampai di traffic light Sukasari (depan lippo plaza sukasari) saya kaget melihat arah ke Tajur ditutup. Ini membuat saya panik karena jam sudah mepet (pool tutup jam 16:30) dan jalan ke arah Tajur pun macet total. Saya pun akhirnya belok ke arah Jalan Pajajaran untuk cari putaran ke arah Tajur.

16:15 : Menemukan putar arah di dekat jembatan Katulampa, namun hal ini tidak membuat saya tenang karena setelah berputar jalan tetap tersendat karena harus menerjang macet.

16:20 : Saya makin panik karena masih di depan Lippo Plaza Sukasari, sementara waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke pool RosIn sekitar 15 menit, menurut Google Maps.

16:25 : Akhirnya terbebas juga dari kemacetan. Lima menit terasa lama sekali. Tapi terbebas dari kemacetan inilah yang membuat saya makin panik karena sisa waktu tinggal 5 menit untuk sampai di pool, sementara menurut Google Maps waktu yang dibutuhkan sampai ke pool sekitar 7 menit. Ada selisih dua menit. Jangan-jangan pool sudah tutup dan saya gagal naik bus ke Jogja 😩

16:32 : Google Maps benar. Akhirnya sampai di pool RosIn Tajur, dan alhamdulillah ternyata poolnya masih buka…fiuh. Seneng banget. Penjaga siap-siap mau tutup tapi begitu melihat kami dia kembali ke mejanya.

Saya langsung memesan tiket kelas Eksekutif tujuan Jogja (naiknya dari Bekasi Timur) seharga Rp 210 ribu per orang. Alhamdulillah masih ada kursi kosong. Tapi karena mepet, saya tak dapat hotseat, tapi baris keempat sebelah kanan atau nomor 4C dan 4D. Tak apalah. Yang penting bisa naik bus.

Tiket

16:44 : Setelah selesai reservasi tiket, saya langsung pulang ke rumah untuk siap-siap perjalanan besok. Di tiket bus berangkat 14.00 tapi petugas minta saya sudah di pool RosIn paling telat pukul 13.00

*****

HARI 2.

Saya bangun pagi-pagi, langsung mandi, ganti baju, sarapan, dan berangkat ke Bekasi dengan diantar orang tua dan adik saya.

Tak perlu diceritakan bagaimana perjalanan ke Bekasi dan di sana ngapain aja. Gak ada yang penting soalnya.

13.15 : Berangkat dari rumah adik Kida (panggilan adik nenek saya itu) di Bekasi Timur. Kida itu kependekan “aki muda” karena ia bungsu di keluarga nenek saya.

13.24 : Sampai di pool RosIn Bulak Kapal, langsung bae saya check-in dan mendapat armada yang bernomor NL173 “Dada tak Bersayap” (ini nama tulisan di stiker bus itu). Tapi busnya belum datang sehingga kami duduk di ruang tunggu.

Bus Rosin

Suasana di pool cukup ramai oleh penumpang dari berbagai kelas bus dan tujuan.

14.00 : Masuk ke armada Rosalia Indah NL173 berbody MP Royal Travego dengan sasis Hino RK8 non airsuspension, saya langsung memasukkan koper ke dalam bagasi bus dan masuk ke kabin. Kesan pertama masuk kabin adalah wangi, adem, full musik dari Via Vallen dan Nella Kharisma 😀, kursi lapang dan empuk walaupun berjumlah 34 seat non legrest, yang dilengkapi bantal yang empuk pula.

14.21 : Setelah menunggu selama 21 menit, bus mulai bergerak menuju Jogja dengan diiringi bunyi kriyet-kriyet suspensi khas Hino RK8. Rupanya kru bus ini hanya dua orang, yaitu driver pinggir (dia yng bertugas di awal dan akhir perjalanan) dan driver tengah saja. Maka dari itu kedua driver harus saling bergantian melayani penumpangnya. Driver tengah pun membagikan air mineral botol 600ml merek Utra, hehehe.

14.35 :  Masuk jalan tol lewat Gerbang Bekasi Timur 2.

15.02 : Keluar tol lewat Gerbang Cikarang Barat.

15.05 : Masuk pool RosIn Cikarang. Di sini bus berhenti sekitar 6 menit. Ada bakul asongan yang agak nyebelin masuk ke bus, soalnya dia menawarkan barang dagangannya dengan berpidato suara keras bin lantang, bahkan suaranya mengalahkan volume musik di bus.

15.11 : Berangkat dari pool Cikarang. Sesaat setelah keluar pool, driver tengah bus yang tengah menjadi kondektur menanyakan titik turun para penumpang dengan ramah.

15.16 : Masuk tol lewat Gerbang Tol Cikarang Barat lagi. Bus masih berjalan santai. Sesaat setelah masuk tol saya sempat tertidur.

16.04 : Saya terbangun. Bus sudah keluar Tol Cikampek dan sedang menuju exit Cikopo.

16.05 : Keluar tol di Gerbang Tol Cikopo.

16.09 : Mampir di agen RosIn Cikampek untuk menaikkan penumpang. Di sini sopir terlihat membetulkan spion kiri. Mungkin nyenggol sesuatu ketika saya tidur.

16.17 : Melintas Simpang Jomin.

16.28 : Masuk SPBU untuk nyolar bareng NL474, SHD503, dan Setia Negara “Negro”. Pengemudi menyilakan penumpang turun untuk jajan atau ke toilet.

16.37 : SHD116 masuk SPBU.

16.42 : NL474 berangkat duluan.

16.48 : SHD116 berangkat duluan. Bus saya kapan berangkatnya nih?

16.53 : NL141 masuk SPBU. Buset dah… bus saya lama amat nyolarnya, gak berangkat juga lagi.

16.58 : Setelah penantian panjang akhirnya bus saya berangkat juga dari SPBU. Setelah keluar SPBU karakter driver pinggir berubah 180 derajat. Ia memacu bus berjalan ngebut dan mosak-masik di sela kendaraan di jalur Pantura ini.

17.03 : Masuk Kab. Subang.

17.11 : Melintas Sukamandi.

17.15 : Melintas Pasar Sukamandi.

17.49 : Melintas Sukra, alhamdulillah bentar lagi sampai di rumah makan, saya udah laper niih…

17.55 : Saat bus saya mau masuk rumah makan, eeh..malah kebablasan, mungkin karena keasyikan banter di lajur kanan. Karena hampir bablas, bus memotong dari kanan langsung kiri. Ternyata di kiri-belakang ada bus Setia Negara “Negro”. Akibatnya bus saya diklakson memakai klakson kapal (artinya sopir SN marah), kondekturnya juga terdengar mengomel. Para penumpang SN juga terlihat tertawa.

Masuk rumah makan RosIn. Namanya memang RosIn, ya. Ini pertama kali saya singgah di sini. Kondisi lingkungannya lumayan bersih. Saya makan dengan nasi, sayur tempe, sayur tahu dan minumnya teh manis hangat. Sebenarnya ada telur rebus balado tapi saya kurang suka, jadi saya tidak mengambilnya. Oya, makan ini gratis, jatah buat penumpang.


Depan bus Rosin

Makan

Menu Makan

Setelah makan, saya salat. Kondisi toilet, tempat wudu, dan musala, menurut saya juga lumayan bersih.

Di rumah makan ini, semua pengemudi mematikan mesin bus saat beristirahat. Sepertinya ini kebijakan dari manajemen Rosalia Indah. Menurut saya, hal tersebut sangat bagus karena bisa mendinginkan mesin, irit solar, dan mengurangi polusi udara. Mantabs…

18.26 : Persiapan berangkat dari rumah makan.

18.33 : Keluar dari rumah makan, driver pinggir digantikan oleh driver tengah. Sesaat setelah keluar dari rumah makan driver pinggir membagikan selimut kepada penumpang. Setelah itu saya tertidur.

20.33 : Terbangun di tol Pejagan. Wah saya tidurnya kelamaan dan menyesal tidur karena tak bisa merasakan aksi bus ini sepanjang tol Kanci-Pejagan. Pasti seru karena mengebut.

20.34 : Keluar tol lewat Gerbang Tol Pejagan.

20.36 : Masuk Jalur Ketanggungan, Brebes.

20.48 : Melintas Flyover Ketanggungan.

21.31 : Melintas Simpang Klonengan.

21.32 : Melintas di depan rumahnya Mas Willy Pandu Nugroho yang sekaligus studionya Sate Tegal Kebut. Saya lihat spanduk bertuliskan “Telor Asin 68” di depan rumahnya. Numpang lewat ya mas…hehehe.

22.17 : Mendapat operan penumpang dari RosIn Sumateraan yang mogok di dekat Jembatan Sakalibel. Kursi yang saat itu tinggal enam langsung terisi semua, namun ada penumpang mas-mas dan mbak-mbak yang tak kebagian kursi. Akhirnya mbaknya duduk di kursi kenek dan masnya duduk di tangga antara kursi kenek dan kursi sopir dengan bantal yang dipinjam dari ibu-ibu penumpang hot seat 1B, karena bus ini tak ada seat CD.

22.30 : Melintas Jalan Lingkar Bumiayu dan Terminal Bumiayu. Di sini bus saya menyalip kendaraan dengan cara blong kanan dan berhasil menyingkirkan konvoi bus Sinar Jaya dari arah berlawanan hingga mereka minggir, hehehe. Setelah itu bus kembali ke jalurnya. Jadi, tidur lagi, ah…

HARI 3.

00.42 : Ketika terbangun, bus mau masuk RM. Lestari, Karanganyar. Waah…tidur saya pulas amat ya. Bus berpapasan (kress) dengan Sugeng Rahayu SHD yang baru keluar dari RM. Lestari, mengarah ke Bandung. Bus saya parkir di bagian belakang RM bareng dengan bus lainnya.

Lumayan banyak penumpang yang turun untuk ke toilet atau beli dan makan mi rebus di rumah makan. Sebenarnya saya juga pengen beli mie rebus tapi terlalu mager, malas gerak, karena baru bangun tidur. Di sini mesin bus dimatikan lagi tapi lampu interior dan musik tetap dinyalakan.

01.30 : Berangkat dari RM Lestari dengan kendali driver pinggir lagi.

01.40 : Melintas Sruweng.

01.43 : Menurunkan penumpang di depan Polsek Pejagoan.

01.46 : Melintas alun-alu Kab. Kebumen.

01.58 : Melintas Kutowinangun.

02.05 : Menurunkan penumpang di Prembun.

02.24 : Melintas depan Terminal Purworejo. Gak masuk terminal.

02.34 : Menurunkan penumpang di Pendowo, Purworejo.

02.53 : Melintas Kulon Progo. Di sini bus saya lari bareng Harum Prima HDD jurusan Bandung-Ponorogo.

02.57 : Menurunkan penumpang di depan Terminal Wates.

03.05 : Menurunkan penumpang di Sedayu.

03.22 : Melintas Ring Road Selatan.

03.31 : Menurunkan penumpang di Wojo.

03.40 : Akhirnya sampai juga di Terminal Giwangan. Alhamdulillah, saya bisa menginjakkan kaki di Jogja untuk ke sekian kalinya dengan selamat. Waktu kelas 5 SD saya pertama kali ke Jogja sendirian naik pesawat, dijemput Eyang (kapan-kapan saya ceritakan perjalanan itu).

Saya turun dari bus untuk mengambil bagasi. Calo-calo taksi resmi langsung merubung, saya tolak tawaran mereka dengan halus.

Setelah itu, saya langsung order GrabTaxi untuk mengantarkan saya ke rumah Nida Asti di Jogja. Nida itu panggilan untuk “nini muda”, karena Nida Asti adik nenek saya.

Di tulisan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Ayah, yang mengantar saya untuk beli tiket.
  2. Kida
  3. Bapak petugas loket tiket Pool Rosalia Indah Tajur, Bogor yang sudah rela menunggu saya di jam tutup agen.
  4. Ibu petugas check-in tiket di Pool RosIn Bulak Kapal, Bekasi, atas keramahannya.
  5. Kru Rosalia Indah NL173 atas keramahannya.
  6. Bapak Suwardi, driver GrabTaxi Jogja yang menjemput dan mengantar sampai saya tiba rumah pada pagi buta.

Bus Rosin1

Sampai jumpa di cerita berikutnya….

CAPER ROSALIA INDAH BEKASI – JOGJA

Pikiran Kita Itu Seperti Tanah

Halo semua…. pada hari Jumat kemarin saya ikut lomba dai cilik di sekolah.

Ceritannya saya ikut lomba dakwah itu dengan kondisi kurang tidur. Soalnya malam sebelumnya baru pulang dari study tour di Bandung dan baru sampai rumah jam 12 malam lebih. Saya harus datang jam setengah tujuh pagi ke sekolah. Bisa dibayangkan, saya benar-benar kurang tidur karena tidur cuma empat jam dari jam 12 malam sampai jam empat pagi.

Sampai juga di sekolah jam setengah tujuh pagi. Ketemu guru pembimbing untuk latihan. Tapi naskahnya belom ada karena dipegang guru lain. Jadi akhirnya saya mereka-reka di pikiran saja bagaimana alur dakwahnya. Setelah guru yang bawa naskah datang, latihan sebentar, langsung ke tempat lomba di lain sekolah.

Sampai di tempat lomba sarapan dulu di kantinnya sambil latihan menghapal dan melancarkan gerakannya. Tiba juga giliran naik panggung, ini isi dakwahnya.

20170227_043209000_ios
Foto oleh Ibu Lulu, guru di SDIT Aliya

 “ Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

           . ان الحمدالله نحمده ونستعىنه ونستغفره ونعود به من شرور انفسنا ومن سيءا ت اعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah: “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu, sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (Surat Al-Kahfi: 109)

“ Al-Qur’an di dadaku, kesuksesan di depanku”

Apa kabar semua? Semoga sehat selalu.

Perkenalkan nama saya Mikail Randu Rayyana. Saya akan menyampaikan dakwah tentang pikiran itu sifatnya seperti tanah. Alhamdulillah, hari ini saya berkesempatan untuk menyampaikan tentang pikiran di sini.

Ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya medan peperangan terbesar berada di pikiran kita, karena pikiran itu sangat kuat dan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang.

Ada pepatah mengatakan:

“Menabur dalam pikiran akan menuai tindakan,
menabur tindakan akan menuai kebiasaan,
menabur kebiasaan akan menuai karakter”

Pikiran kita seumpama tanah, tanah tidak pernah peduli terhadap jenis benih apa yang hendak kita tanam. Jika kita menabur benih jagung, tanah akan meresponnya, lalu menumbuhkan jagung. Apapun yang kita tanamkan dalam pikiran, entah itu hal-hal yang baik atau buruk, pikiran kita akan  segera menerima, merespon, dan menumbuhkannya.

Dan Al-Qur’an juga menjadi penunjuk akal kita.

. وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Isra: 82)

Syarat utama agar Allah SWT menjadikan Al-qur’an sebagai penawar ialah, membacanya dengan ikhlas.

Ikhlas maknanya, murni dan bersih
Apapun itu amalannya,
Bersih permulaan amalannya, yaitu niatnya
Bersih ketika pelaksanaan amalannya,
Bersih pula hasil akhirnya
Dan Allah ta’ala dengan senang hati-Nya

كل الناس يتمني انه يدرك امله

“Maka setiap manusia berharap, bahwa ia akan menggapai cita-citanya”

Sekian dari saya, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Setelah lomba makan siang terus kembali ke sekolah lalu salat Jum’at dan pulang naik GrabBike.

Salam.

 

Pikiran Kita Itu Seperti Tanah

3 Keunggulan Motor Ayah yang Bobrok

Halo semua…

Setelah sekian lama blog tanpa update, sampai saya lupa mengucapkan selamat tahun baru, akhirnya bisa menulis juga.

Jpeg
Sepeda motor Ayah merk Kanzen Kelana 110 cc tahun 2004.

Kali ini saya kembali menulis tentang sepeda motor ayah saya yang pernah saya tulis di blog ini. Linknya klik di sini. Ternyata meski bobrok, sepeda motor ini punya keunggulan. Langsung to the point saja ya, ini di antaranya:

1. Irit bensin

Jpeg

 

Ternyata motor ayah saya irit juga. Untuk mengetahui kesimpulan ini, saya menghitung dengan cara pengisian bensin. Ayah saya mengisi bensin 2 liter setiap Senin. Artinya bensin habis selama sepekan atau atau lima hari kerja untuk ke stasiun Bogor. Jarak dari rumah saya ke stasiun 7 kilometer sehingga dalam sehari motor ini menempuh jarak 14 kilometer. Maka dalam sepekan total perjalanan menempuh 70 kilometer. Dengan perhitungan ini bensin yang dikonsumsi sepeda motor ini 1 liter untuk 35 kilometer (ngitungnya kira kira saja). Irit kan?

2. Anti maling

Ayahku ini pelupa. Kunci motor ini beberapa kali tertinggal di motor karena buru-buru mengejar kereta. Mungkin ada sebanyak 4 kali. Saat pulang pada malam hari kunci motor masih menempel di tempat yang sama. Artinya motor ini tak ada yang mau mengambilnya. Di rumah juga, motor ini jarang dikunci.

3. Bandel

Umur sepeda motor ini sudah 13 tahun tapi hanya 3 bagian yang diganti yaitu oli mesin setiap 3 bulan, ban belakang karena sudah habis, dan laher roda belakang karena sudah oblak.

Udah segitu dulu tulisannya. Sekarang lagi mikir bisa beli Yamaha Mio drag 225cc punya teman sekelas. Yamaha Mio dia sudah pakai rangka drag full airbrush dan motornya tanpa surat-surat cuma ada sertifikat drag, tapi ayah saya tidak tertarik membelinya. Bagi yang mau beli, motornya sekarang ada di Depok (motor oprekan Ben’s Motor Tasikmalaya) dan harganya 9 juta.

Salam

3 Keunggulan Motor Ayah yang Bobrok

Yamaha 125z, Bebek Super Gesit dari Malaysia

 

Kali ini saya akan menceritakan tentang motor bebek super CBU asal Malaysia yaitu Yamaha 125z.

image
Yamaha 125Z

Mungkin anda pernah mendengar namanya, mungkin juga ada yang pernah melihatnya langsung atau bahkan ada yang pernah memilikinya. Beruntung sekali yang pernah memilikinya karena motor ini adalah motor eksklusif. Populasi motor ini sangat jarang di Indonesia juga harga jual bekasnya sangat mahal.

Yamaha 125z masuk ke Indonesia pada akhir tahun 1999 ketika Indonesia sedang krisis moneter. Mungkin karena itu harganya sangat mahal. Kalau tidak salah harga barunya adalah Rp 20 juta hingga Rp 25 juta lebih.

Walaupun negara sedang krisis moneter dan harga motor sangat mahal untuk ukuran motor bebek, ternyata banyak orang yang membeli motor ini. Soalnya motor ini:
– memiliki mesin yang mengusung mesin dua langkah (tak) berpendingin udara,
– volume silinder 124.3cc,
– Bore x Stroke adalah 53.8 x 54.7mm,
– rasio kompresi 6.5:1,
– tenaga maksimal 17.5ps @ 8000rpm,
– torsi maksimal 1.65Kgf-m @ 7500rpm,
– kapasitas tangki bahan bakar 5.5lt,
– kapasitas oli samping 1.2lt,
– dilengkapi dengan transmisi 6 percepatan,
– kick starter,
– kopling basah,
– aki basah,
– pengapian CDI unlimiter,
– suspensi depan teleskopik,
– suspensi belakang monoshock,
– memiliki sektor pengereman tipe disk brake pada roda depan dan belakang,
– roda depan berdiameter 17″-70/90 dan roda belakang 17″-80/90,
– berat total motor 101kg membuatnya mudah mencapai kecepatan maksimal yaitu 150 km/jam. Gile, motor bebek jaman sekarang mungkin topspeednya cuma 145 km/jam.

Bahkan motor ini saat hari peluncurannya di Indonesia ditunggangi pembalap MotoGP legendaris yaitu alm. Norick Abe di sirkuit Kenjeran Park Surabaya. Mantap…

Sayangnya pada tahun 2004 motor ini dihentikan penjualannya karena saat itu ada pembatasan sepeda motor bermesin 2 langkah. Waktu itu ada juga ada pabrik motor dari Cina yang meniru desain Yamaha 125Z ini. Namanya, Beijing Champ.

Saya sendiri melihat motor ini secara langsung baru 4 kali, yaitu:

-Sepanjang tahun 2013 di sebuah rumah makan Padang di Jalan Raya Pagelaran, Bogor. Kondisinya masih bagus. Saat itu saya belum tahu namanya.
-Di Jalan Raya Kuningan – Waled, tepatnya di daerah Cikancas, Kuningan, Jawa Barat. Kondisinya sudah buruk. Sebenarnya saya kurang yakin kalau motor itu Yamaha Tiara atau Yamaha 125z soalnya motor itu memakai suspensi depan dan handle bar Yamaha Tiara, bisa saja itu adalah Yamaha Tiara yang memakai body belakang Yamaha 125z atau Yamaha 125z yang memakai suspensi depan Yamaha Tiara.
-Di Jalan Pantura antara Cirebon dan Jatibarang, kondisinya juga sudah buruk tapi bodynya masih lengkap.
-Di sebuah jalan kecil di Singapura, yang ini kayaknya baru keluar dari dealer.

image
Beijing Champs (Photo: adicuzzy.wordpress.com)

Ternyata motor ini masih diproduksi di Malaysia dan lulus Euro 3 tapi namanya berubah menjadi Yamaha 125zr

image
Yamaha 125zr produksi 2016

Semoga motor ini bisa hadir lagi di Indonesia.

Sekian.

Salam

Yamaha 125z, Bebek Super Gesit dari Malaysia

Pengalaman Naik Go-Jek

Halo Semua….!

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman naik ojek online Go-Jeg. Eits, pasti ada yang aneh saat saya menulis GoJeg dengan “G” huruf akhirnya, bukan “K”. Pada aplikasinya, Go-Jek pun memakai K. Saya jelaskan dulu sejarah ojeg.

g2

Menurut cerita ayah saya yang tak disebutkan sumbernya, ojeg pertama kali muncul di Jakarta Utara (sekitar Ancol dan Tanjung Priok) pada tahun 1969. Dulu kendaraannya sepeda angin, bukan sepeda motor. Orang menyebut menyewa jasa sepeda itu dengan istilah ojeg, kependekan dari “ongkos ngajegang”.

“Ngajegang” itu bahasa Sunda yang artinya mengangkang, posisi penumpang ketika naik sepeda di belakang. Dan “O” adalah ongkos. Kita tahu bahasa Sunda dan Betawi punya hubungan yang dekat karena tempat pemakainya berbatasan di Jakarta dan Bogor. Mungkin juga para pengojeg adalah orang-orang Sunda.

Sehingga ongkos ngajegang artinya tarif untuk mengangkang atau dibonceng. Masyarakat rupanya kurang suka dengan kata ojeg karena lafal “Jeg” kurang enak didengar dan diucapkan, huruf G terlalu menonjok saluran tenggorokan.

Lama kelamaan masyarakat mengganti huruf G menjadi K atau dari ojeg menjadi ojek. Sampai sekarang masyarakat hampir tidak pernah mengucapkan ojeg dan kata ojeg pun mulai hilang ditelan zaman dan berganti menjadi ojek. Kalau dilihat dari sejarahnya, seharusnya Gojek menggunakan huruf G bukan K.

***

Saya menggunakan Gojeg pada hari Senin, 2 Mei 2016, karena terlambat bangun. Seharusnya saya bangun pukul 04.00 tapi baru melek jam 05.45. Saya buru-buru mandi. Ketika sedang memakai baju mobil jemputan tiba. Ibu saya pun meminta Pak Sopir tak usah menunggu karena saya belum sarapan. Ibu lalu memesan Go-Jek.

Setelah selesai sarapan, Gojek pun datang. Kata pengemudinya, dia sempat nyasar dan malah lewat blok belakang. Menurut dia, saya adalah orderan pertamanya di hari Senin karena dia baru saja selesai mandi dan sarapan. Saya pun naik dan memakai helm hijau khas Gojek.

g1
Foto dulu sebelum berangkat 🙂

Sialnya saat mendekati sekolah, jalanan macet, tepatnya di depan Sekolah Insan Kamil. Biasalah  hari Senin loe bisa pikirin lah bagaimana kondisi lalu lintasnya xixixi…..

g3
Lokasi macet dan jalan pintas

Jadi untuk menghindari macet saya meminta pengemudi GoJek lewat jalan pintas yang melalui perkampungan belakang sekolah. Akhirnya, saya berhasil sampai di sekolah dan saya tidak terlambat malah agak terlalu cepat karena mobil jemputan saya belum tiba dan sekolah masih sepi.

g5
Ongkos yang saya bayar.
Oke segitu dulu artikelnya ya…….

Salam

Pengalaman Naik Go-Jek

Tentang Anoa

Ini adalah tulisan tugas sekolah pelajaran komputer tentang hewan-hewan. Saya memilih anoa karena ini hewan langka sehingga harus diabadikan:

Anoa adalah hewan endemik pulau Sulawesi dan hewan ini adalah maskot Provinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan persebarannya, hewan ini tergolong fauna peralihan. Sejak tahun 1960-an, anoa berada dalam daftar hewan yang terancam punah. Populasi anoa dalam beberapa tahun terakhir menurun secara drastis dan diperkirakan kurang  5.000 ekor yang masih bartahan hidup. Penurunan populasi anoa diakibatkan perburuan anoa yang kian marak. Sebagian besar bagian tubuh anoa yang diburu adalah kulit, tanduk, dan daging.

JENIS-JENIS ANOA

Ada dua spesies anoa, yaitu anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Kedua jenis ini tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Keduanya juga termasuk jenis yang agresif dan sulit dijinakkan untuk dijadikan hewan ternak. Kedua jenis anoa ini dibedakan berdasarkan bentuk tanduk dan ukuran tubuh. Anoa dataran rendah relatif lebih kecil, ekor lebih pendek dan lembut, serta memiliki tanduk melingkar. Sementara anoa pegunungan lebih besar, ekor panjang, berkaki putih, dan memiliki tanduk kasar dengan penampang segitiga. Penampilan mereka mirip dengan kerbau, dengan berat berat tubuh 150-300 kilogram dan tinggi 75 centimeter. Saat ini konservasi anoa difokuskan pada perlindungan terhadap kawasan hutan dan penangkaran. Banyak yang menyebut anoa sebagai kerbau kerdil.

 

anoapegunungan
Anoa pegunungan (Sumber: alamendah.com)

 

anoadataranrendah
Anoa dataran rendah (Sumber: anneahira.com)

 

HABITAT ANOA

 

Habitat anoa berada di hutan dataran tropika, sabana (savanna), terkadang juga dijumpai di rawa-rawa. Mereka merupakan penghuni hutan yang hidupnya berpindah-pindah tempat. Apabila menjumpai musuhnya, anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa dan jika terpaksa melawan, mereka akan menggunakan tanduknya.

Berbeda dengan sapi yang lebih suka hidup berkelompok, anoa hidup semi soliter, yaitu hidup sendiri atau berpasangan dan hanya akan bertemu dengan kawanannya jika si betina akan melahirkan. Mereka paling aktif pada saat pagi dan sore hari, ketika udara masih dingin. Karena kebiasaan mendinginkan tubuh, anoa menyukai berendam di lumpur atau air.

MAKANAN

Anoa termasuk hewan herbivora. Di alam bebas, anoa memakan makanan yang berair (aquatic feed), seperti pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Anoa dataran rendah terkadang juga meminum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka.

th
Sumber: hasriyadilabora.blogspot.com

REPRODUKSI

 

Setiap tahun induk anoa rata-rata melahirkan satu bayi. Anoa bisa bertahan hidup sekitar 20 hingga 25 tahun, dan sudah mampu kawin serta berkembang biak pada usia 2 sampai 3 tahun. Periode kehamilan terjadi selama 276 sampai 315 hari. Bayi yang dilahirkan induknya hanya satu ekor, dan sangat jarang sekali mereka sampai melahirkan hingga dua ekor bayi. Saat dilahirkan, bayi anoa memiliki bulu berwarna cokelat keemasan atau kekuningan dan sangat tebal. Warnanya perlahan akan berubah menjadi lebih gelap seiring dengan pertumbuhannya.

 

Sumber tulisan: Wikipedia

 

 

Tentang Anoa

Motor Ayah yang Bobrok

Sebenarnya tulisan ini gak penting, tapi karena sekalian tambah kategori tentang mocin, ditulis sajalah. Langsung saja kita ke motornya.

Jpeg

Sepeda motor ayah saya merk Kanzen jenis Kelana, sepeda motor pertama buatan dalam negeri, yang bekerja sama dengan Korea sehingga mesinnya memakai Daelim. Umur sepeda motor ini lebih tua dari usia saya. Ayah saya mendapatkan dari kantornya beberapa hari sebelum saya lahir pada 13 Juli 2004. Karena sudah lebih sepuluh tahun, motor itu bobrok. Ayah saya memakainya hanya untuk ke Stasiun Bogor jika akan ke kantornya tiap pagi.

Kecepatan yang bisa dicapai saat ini adalah 40 km/jam (kalau diukur menggunakan GPS karena speedometernya mati). Padahal saat baru beli kecepatannya bisa mencapai 140 km/jam. Banyak yang bilang bahwa Kanzen adalah mocin (motor Cina) tapi sebenarnya Kanzen adalah mokor (motor Korea) seperti yang saya katakan pada paragraf kedua.

 

Jpeg
Speedometer yang sudah rusak.

Karena motor ini jarang dirawat, motor ini jadi banyak masalahnya, seperti speedometer mati karena mesin jarumnya rusak (akhirnya kabelnya yang nyambung ke roda depan dipotong), fuel meter masih berfungsi tapi jarumnya mentok di posisi setengah tidak bisa lanjut ke full, baut pengikat body dengan bagasi sudah copot keduanya, accu soax (jadinya lampu sein bisa nyala tapi tidak kejep-kejep, lampu depan mati tapi lampu belakang nyala, klakson mati, dan elektrik starter mati), panel penutup klakson pecah bawahnya, rem depan blong, rem belakang sudah hampir blong, mesin dan knalpot kadang mengeluarkan asap, dll.

Jpeg
Gear speedometer.

Meski bobrok, ayah saya tetap memakainya dan tidak mau menjualnya dengan alasan motor ini adalah kendaraan pertamanya. Padahal saya sudah minta ganti dengan Yamaha R15 atau Yamaha R6 atau Yamaha Byson atau Yamaha Vixion atau Honda Verza. Kalau masih tidak mau, ganti dengan Yamaha Jupiter MX King atau Suzuki Satria FU150i atau Suzuki Satria FU150 atau Yamaha Jupiter MX135. Kalau masih tidak mau juga, tukar saja dengan Yamaha Vega 110 milik uwak saya, meski itu pilihan terakhir.

Setiap saya kasih pilihan-pilihan itu, ayah saya menjawab begini: “Selain kendaraan pertama, itu harta pertama ayah. Lagipula, kalau masih bisa dipakai kenapa harus ganti yang baru.”

Jadi hilang sudah harapan punya motor baru impian.

Salam biker Indonesia.

Motor Ayah yang Bobrok